KEBAHAGIAAN HAKIKI DIPEROLEH ATAS DASAR IMAN
Allah SWT berfirman dalam QS adz dzariyat 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Ibadah mencakup makna yang luas,bermakna tunduk kepada perintah Allah dalam aktivitas sehari-hari, tidak hanya pada salat, puasa, zakat, haji.
Termasuk dalam topik pembahasan kita kali ini tentang KEBAHAGIAAN yang diajarkan Islam.
FAKTA :
- Meraih kebahagiaan adalah cita-cita setiap manusia. Tidak ada manusia yang ingin bersedih, sengsara dan hidup dalam kegalauan (betul Ya pak Bu..)
- Siapa pun, akan berusaha mencari kebahagian itu, walaupun harus berjuang mendapatkannya (cerita di jkt berngkat subuh, pulang malam, dsb)
- Banyak sekali hal yang bisa membuat orang bahagia.
1. senang punya gadget seri terbaru
2. Senang dapat untung besar dari bisnisnya
3. senang gajinya besar
4. punya rumah yang diimpikan
5. kendaraan nyaman,
6. perhiasan mewah,
Orang sebut semua ini sebagai kebahagiaan material. Ini karena yang membuat orang senang atau bahagia bersifat materi atau fisik.
- Ada pula yang disebut dengan kebahagiaan non-material :
1. Orang punya kedudukan terhormat di masyarakat,
2. mendapat pujian atas prestasi,
3. Hidup dalam keluarga yang sakinah, (meski dalam kesahajaan) suami-istri dan anak-anaknya saling menghormati, saling menyayangi.
4. Kerja Dalam lingkungan yg tidak toxic.
MASALAH :
- Namun, dari seluruh manusia yang mengharapkan kebahagian itu, ternyata hanya sedikit yang menemukan kebahagiaan sejati. Kebanyakan manusia terjebak pada pusaran kebahagiaan semu yang berujung pada SENGSARA.
- Bisa kita lihat berapa banyak orang yang hidup secara material dan non material berlebih tapi tidak bahagia bahkan mati bunuh diri.
- artis terkenal kurt cobain bunuh diri,
- boyband korea jonghyun bunuh diri karena depresi,
- Chung Mong-Hun Presiden Direktur Hyundai bunuh diri krn merasa bersalah atas keputusannya)
- Jika demikian, pertanyaannya apakah kebahagiaan yang sejati itu? bagaimana menempatkan rasa bahagia itu sehingga dapat dinamakan sebagai kebahagiaan yang sejati?
SOLUSI :
- Sebelum menjawab kita pahami dahulu Dibandingkan kebahagiaan material, kebahagiaan non-material tentu saja lebih tinggi nilainya. Lihat saja, untuk meraih kebahagiaan non-material ini, sering orang tak ragu berikan pengorbanan yg besar.
- Membayar mahal untuk naik haji / umrah.
- Meninggalkan makanan lezat dan sahwat untuk puasa.
- Bangun tengah malam untuk shalat malam.
- Meninggalkan tempat kerja ribawi karena dilarang Islam.
- Juga Dalam sebuah hadits dikatakan
“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR Bukhori Muslim)
Hadits ini Termasuk dalam kebahagiaan non-material. bukan sekadar karena saat berbuka makan enak dalam keadaan lapar.
Krn Tak terhitung banyaknya kita makan dalam keadaan lapar, lebih dari pada itu. Inilah yang disebut kebahagiaan spiritual,kebahagiaan atas dasar iman.
Kebahagiaan yg dirasakan ketika seorang Muslim ibadah. Sama seperti Nikmatnya shalat malam, membaca al-Quran, umrah – haji.
- Kebahagiaan ini adalah tanda keimanan dalam hatinya, kesadaran dalam bentuk ketaatan yang dapat mengangkat derajatnya di sisi Allah. Dan ini adalah hakikat kebahagian orang yang beriman.
- Inilah yang oleh para ulama disebut al-mahabbatu asy-syar’iy (kecintaan sesuai syari’at). Itulah cinta yang telah dibingkai oleh keimanan dan syariat Allah.
- Dengan itu kecintaan terhadap segala yang bersifat material dan non material tidak hanya atas dasar dorongan thabi’i (naluri) semata, tetapi telah terbimbing oleh ketentuan syariat Allah. itulah kecintaan yang timbul berdasarkan iman dan ketaatan.
- Melalui kecintaan sesuai syari’at akan bisa merasakan manisnya iman, yang akan membawa dirinya pada kebahagiaan atas dasar iman, sebagaimana disebut oleh Baginda Rasulullah saw. dalam hadis shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim.
“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya; (2) Ia mencintai seseorang, tidaklah mencintai dia melainkan karena Allah; (3) Ia membenci untuk kembali pada kekafiran –setelah Allah menyelamatkan dia darinya– sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api.”
KESIMPULAN :
- Kecintaan kepada syar’iat akan membawa seorang Muslim terhindar dari sekadar kecintaan yang bersifat naluri (al-mahabbatu at-thaabi’i) semata. Namun akan membawa kepada kebahagiaan hakiki yaitu kebahagiaan atas dasar keimanan baik wujudnya material dan non material.
- Memang secara naluriah pada diri tiap manusia ada sifat hubbut tamalluk (senang untuk memiliki). Ingin memiliki harta, pasangan (suami-istri), anak keturunan, rumah, kendaraan, perhiasan, sawah ladang, hewan ternak dan sebagainya.
- Namun Jika tidak dikendalikan, hasrat memiliki tak pernah berujung. Di sini pangkal ketamakan atau kerakusan (greedy) yang menjadi watak dasar kapitalis, persis seperti yang dikatakan Rasulullah dalam hadis shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.”
- CONTOH NYATA Bagaimana realisasi mahabatulLaah (kecintaan) terhadap Allah / syariat dengan sangat dramatis oleh Khalilullah Ibrahim as. dan keluarganya. Saat itu ia meninggalkan istri dan anaknya di lembah yang tak berpenghuni dan saat diperintahkan menyembelih anaknya, Ismail. Nabi Ibrahim sangat cinta kepada anaknya, tetapi ia lebih cinta kepada Allah yang telah memberi dia istri dan anaknya, Ismail. Ketika semua perintah Allah dilaksanakan, ia merasakan kebahagiaan imani. Inilah kebahagiaan ideologis, sebuah kebahagiaan yang hakiki.
Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah (TQS al-Baqarah [2]: 165).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar