banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Minggu, 28 April 2019

Cinta dan Benci



Rasa Cinta dan Benci tak pernah salah karena merupakan fitrah yang diberikan Allah SWT. 

.

Menjadi TIDAK TEPAT bila salah meletakkan perasaan cinta dan benci tersebut. Bagaimana cara mencintai dan membenci yang benar ? 

.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

.

Bahwa kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah.

.

Imam an-Nawawi berkata, “Kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya –subhanahu wa ta’ala– ialah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan tidak menyelisihi aturan-Nya, demikian pula halnya kecintaan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”(lihat Syarh Muslim [2/96])

.

Kesimpulannya tempatkan rasa cinta dan benci pada STANDAR yang Allah SWT tempatkan.

.

Jangan jadikan hawa nafsu sebagai standar, kebenaran hakiki hanya yang berasal dari Allah SWT semata. Kuatkan tekad dimana ada syariat disitu pasti ada maslahat!

.

#motivasiislami #yukhijrahbisnis  #suksesmulia


Jumat, 26 April 2019

Kesombongan



MENERIMA TANPA MENJALANKAN

.

Bukti ketaatan diri kepada Allah SWT adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhkan segala larangan-Nya.

.

Belum dianggap taat apabila menerima dan mengakui Islam namun tidak mau untuk menjalankan dalam setiap perilaku kehidupan.

.

Dikutip dari Kisahmuslim, alasan Abu Jahal menolak beriman. Bukan karena Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdusta. Tapi yang menghalanginya adalah kesombongan. Jika dia beriman, berarti kabilahnya kalah dalam kemuliaan. Kabilahnya kalah gengsi dengan bani Hasyim. Dan di zaman sekarang, alasan ini pula yang menjadi latar belakang seseorang menolak untuk taat.

.

Di hari Perang Badar, al-Akhnas bin Syuraiq bertanya kepada Abu Jahal, “Abul Hakam (sebutan Abu Jahal di tengah kafir Quraisy), beritahu aku tentang Muhammad. Apakah ia orang yang jujur atau pendusta? Karena di sini tak ada seorang Quraisy pun selain aku dan engkau yang mendengar pembicaraan kita.” Abu Jahal menjawab, “Celaka engkau! Demi Allah, sungguh Muhammad itu seorang yang jujur. Dia sama sekali tak pernah berbohong. Tapi, kalau anak-anak Qushay dengan al-liwa’ (mengatur urusan perang), hijabah (memegang kunci Ka’bah dan pengaturannya), siqayah (memberi jamaah haji minum), dan juga nubuwwah (kenabian), Quraisy yang lain kebagian apa?” (Ibnul Qayyim, Hidayatul Hayara, Hal: 50-51). .


Semoga kita dihindarkan dari sikap sombong yang menolak taat karena kedepankan nafsu (perasaan, harta, kedudukan, jabatan) dibanding keridhoan Allah SWT. aamiin. .

Salam Sukses Berkah Berlimpah!

#kerashati #motivasiislami #yukhijrah #yukhijrahbisnis


Kamis, 18 April 2019

Urgensi Sistem Kehidupan



Urgensi Sistem Kehidupan

Menurut KBBI arti dari sistem adalah   perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. 
.
Dalam buku pertama yang saya tulis, dijelaskan bahwa membangun bisnis yang hebat selain harus sesuai syariat juga harus sesuai sunatullah,  yaitu dengan Great Team, Great System dan Great Strategy.
.
Great System/ Sistem yang hebat dibutuhkan bila ingin membesarkan skala bisnisnya. Tanpa dukungan sistem yang hebat maka sebagus apapun teamnya akan sulit untuk maju berkembang maksimalkan potensinya.
.
Dalam level keluarga juga demikian dibutuhkan sistem berkeluarga yang mumpuni bila ingin terbentuk keluarga yang kokoh, tahan dari serangan gaya hidup rusak di zaman jahiliyah moderen ini.
.
Yaitu dengan meneladani Rasulullah SAW. Seperti suami menjadi pemimpin (qowam) bagi istri dan anaknya,  wajib mendidik dengan baik (sesuai syariat), serta ketundukan anak istri kepada pemimpin keluarga tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
.
Apalagi di level negara yang demikian rumit terdiri banyak kepala, dengan berbagai ide, kebiasaan, perilaku, dan pemikiran yang berbeda-beda. Serta banyaknya berbagai bidang yang diatur mulai dari sosial, ekonomi, politik, persanksian, dll. Akal manusia yang terbatas akan sangat sulit menjangkau itu semua untuk membuat sistem dan aturan yang komperehensif berikan keadilan, kebaikan merata, efek jera, dsb.
.
Bahagianya kita hidup dizaman ketika risalah Islam telah diturunkan secara sempurna, nyata dan terang benderang, sehingga umat-Nya tinggal menjalankan panduan tersebut. Syariat mengatur secara tuntas urusan bernegara supaya tercipta negeri yang BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR, sebuah negeri yang diberkahi menyinari dunia memberikan Rahmat bagi semesta alam. 
.
Semoga para pemimpin negeri menyadari urgensi dibutuhkannya sistem terbaik ini.
.

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (Para Rosul), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." QS Al A’raf: 96

Senin, 15 April 2019

Tenang



Roda kehidupan terus berputar.

Banyak episode yang dilewati pada setiap putaran. 

Ada kesedihan, ada kesenangan. 

Ada penderitaan, ada kebahagiaan.

Ada kesempitan, ada keluasan. 

Ada kesulitan, dan ada kemudahan. .

.

Tidak ada manusia yang terhindar darinya. Hanya kadarnya yang tidak sama. 

Situasi apapun tak usah risau dan galau.

.

Cerita tidak selalu sama.

Episode terus berubah.

Berganti dari satu situasi ke situasi.

Kadang diatas, kadang dibawah.

Kadang maju, kadang mundur.

Kadang di depan, kadang dibelakang.

Itulah kehidupan.

.

Namun, satu hal yang harus tetap ada; yaitu, hati yang selalu tenang teguh dalam ketaatan.

.

Ketika hati dalam tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun ikut tenang.

Tindakan kan tetap dijalur yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan.

Kata-kata terkandung hikmah dan tidak keluar dari kesantunan. 

Sesulit dan separah apa pun situasi yang  dihadapi selalu ada hikmah kebaikan.

.

Ketika tenang, mengambil keputusan atas dasar kesadaran.

Berharap terbaik dalam koridor tuntunan.

Walau berat itulah kehidupan yang selalu penuh dengan ujian.

.

Ketenangan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang beriman nan taat, seperti dalam firman-Nya : 

.

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)

.

#suksesmulia #yukhijrahbisnis #sukses #inspirasi #motivasi #hijrah #yukngaji


Kamis, 11 April 2019

Standar Memilih Pemimpin



Standart baik buruk Pemimpin
.
Baik menurut kita belum tentu baik menurut yang lain. Menurut mereka si A baik karena wajahnya kalem dan merakyat suka blusukan. Sedang si B tidak baik karena wajahnya galak dan kurang merakyat. Sebaliknya sebagian yang lain bilang si A itu keliatannya aja kalem tapi lihat kebijakan-kebijakannya tidak cerminkan pro rakyat. Sementara menurut mereka si B itu tegas dan patriotis.
.
Penilaian Baik buruk menjadi relatif karena tidak ada standart ukurannya. 
Seperti coach bisnis saya bilang “segala sesuatu yang tidak dapat diukur maka tidak dapat diatur”. Artinya ukuran ini penting didalam memutuskan apakah sesuatu itu sudah sesuai / belum.
.
Beruntungnya sebagai muslim standar baik buruk tidak lagi relatif karena sudah jelas standar yang haq dan yang bathil, tidak ada yang abu-abu disana.
.
Setidaknya ada 3 hadits yang silahkan bisa dijadikan rujukan didalam menentukan standar pemimpin.
.
1. Orang yang amanah
“Abu Dzar, kamu ini lemah, sementara jabatan ini adalah amanah. Pada Hari Pembalasan amanah itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil amanah tersebut sesuai dengan haknya dan menunaikan kewajiban dalam kepemimpinannya.” (HR Muslim).
.
2. Tidak menimbulkan kesulitan
“Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepada dia.” (HR Muslim).
.
3. istiqamah memerintah dengan syariah. Diriwayatkan bahwa Muadz bin Jabal, saat diutus menjadi wali/gubernur Yaman, ditanya oleh Rasulullah saw., “Dengan apa engkau memutuskan perkara?” Muadz menjawab, “Dengan Kitabullah.” Rasul saw. bertanya lagi, “Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di dalam al-Quran)?” Muadz menjawab, “Dengan Sunnah Rasululllah.” Rasul saw. bertanya sekali lagi, “Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di dalam al-Quran maupun as-Sunnah)?” Muadz menjawab, “Aku akan berijtihad.” Kemudian Rasulullah saw. berucap, “Segala pujian milik Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah ke jalan yang disukai Allah dan Rasul-Nya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Itulah sedikitnya 3 pemimpin yang layak dipilih dan dijadikan standar ukuran. Wallahualam. Salam Sukses Berkah Berlimpah!

Agung Nugroho Susanto

Rabu, 10 April 2019

Belum Tau / Nggak Mau Tau?



Belum tau / Nggak mau tau ?

.

Dalam dunia bisnis banyak hal-hal baru yang terus berkembang. Terlebih di era internet dan sosial media sekarang.

.

Dalam berpromosi dulu cukup beriklan dimedia cetak koran/majalah satu halaman sudah bisa bikin viral. Atau gimana caranya diliput televisi nasional dijamin setelah tayang telpon berdering terus terusan.

.

Lalu berkembang ke era sosial media, mulai ke zaman twitter beli akun yg followernya banyak, sambil bangun SEO google supaya peringkat satu, ada juga BBM optimasi, semakin berkembang lagi facebook dan Instagram bisa ngiklan, ditambah ada google ads,  endorse selebgram/artis, strategi funelling, sampai WA optimasi. Dst dst.. 

.

Perubahan yang demikian cepat memaksa kita untuk belajar biar nggak ketinggalan. Bagi yang belum tau caranya bisa belajar ikutin seminar/workshop atau tools2/buku yang dijual online. 

.

Menjadi masalah kalau yang NGGAK MAU TAHU, dia paham teknologi berkembang tapi nggak mau tahu belajar kepada ahlinya, alhasil semakin jauh tertinggal.

.

Apalagi dalam aspek yang SANGAT PENTING menentukan kehidupan akhirat nanti yaitu soal AGAMA, contohnya RIBA saya mulai tahu dan pelajari tentang riba sekitar tahun 2012 melalui komunitas Pengusaha Rindu Syariah jogja, lalu mendalami lagi belajar tentang Fikih Muamalah bisnis seketika tersentak, kaget, bingung, galau ternyata yg saya lakukan selama ini BANYAK SALAHNYA!

.

Kalau saya nggak mau tahu mungkin saya semakin terperosok kelembah dosa yang sangat dalam, tidak ada keberkahan dari bisnis yang saya jalankan. 

.

Semakin kesini semakin semangat belajar tentang Islam,  saya seperti “minum air laut” semakin minum semakin haus. Ternyata Islam sangat komperehensif mengatur semua hal sampai urusan politik dan bernegara.

.

Kembali lagi kalau belum tau maka CARILAH TAHU! Bukan malah ketika ada orang jelaskan tentang bagaimana Islam Kaffah malah skeptis dan nyinyir. Jangan menjadi orang yang NGGAK MAU TAHU kalau tidak ingin salah jalan dan tanpa sadar menistakan ajaran agamanya sendiri!

.

Agung Nugroho Susanto

Sabtu, 06 April 2019

Bangga ber-Islam



Bangga ber-Islam
(Agung N Susanto)
.

Dulu sebelum mengkaji Islam lebih dalam rasanya diri ini enggan menampakkan “ke-islaman” dalam kehidupan sehari-hari.
.
Apalagi untuk urusan bisnis “jangan bawa-bawa agama diluar masjid” masih mengakar kuat. Akibatnya semua tindak tanduk perilaku kedepankan asas manfaat. Ketika bermanfaat disanalah ada kebaikan begitu pikir saya.
.

Mungkin saat itu saya sudah terkena virus sekuler, yang memisahkan agama dengan kehidupan. Dianggap agama hanya untuk urusan ibadah saja. Demikianlah doktrin sekuler yang menjangkit banyak orang yang KTP-nya bertuliskan Islam.
.
Dampak lainnya yaitu tidak percaya diri dengan ajaran agamanya. Lebih bangga membawa pemikiran dan gaya barat ketimbang syariat Islam yang begitu sempurna. Padahal Allah SWT melalui firman-Nya telah menegaskan :
.
. “Kalian (umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia (karena) kamu menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110).
.
Pun sampai kini ghiroh umat Islam yang demikian gempita juga masih belum bangga tunjukkan ajaran agama-Nya. Masih malu-malu menunjukkan bahwa “Syariat harga Mati!”. Namun saya yakin umat berproses menuju kesana, yang ketika waktunya tiba kebangkitan itu kembali menjelma.
#motivasiislami #yukhijrahbisnis #suksesmulia

Selasa, 02 April 2019

Negeri yang bertakwa



•••

Kerusakan demi kerusakan terjadi sebab kurangnya aturan / peran negara yang mengajak penduduknya untuk menjadi pribadi bertakwa.
.
Malah sebaliknya negara sebagai institusi tertinggi yang mengatur masyarakat malah melegalkan hal-hal yang di haramkan Allah SWT, seperti riba, minuman keras, dsb. Penegakkan hukuman juga tidak berikan efek jera. Dampaknya?
.
Kerusakan terjadi mulai dari lingkup terkecil yaitu individu, lalu ke keluarga, akhirnya kerusakan pengaruhi juga kehidupan masyarakat dan bernegara.
.
Lihat saja tingkat kriminalitas yang demikian tinggi, permasalahan sosial yang demikian pelik, carut marut pengelolaan negara , korupsi aparatur negara yang menjadi budaya, dan sebagainya dengan daftar panjang tak ada habisnya. Solusinya?
.
Kembali kepada Islam, menjalankan syariat secara utuh di semua aspek kehidupan. Bukankah kita pahami Islam mengatur segala hal secara sempurna? Urusan kecil saja ada aturannya apalagi urusan besar seperti mengatur negara ?
.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Qs. Al Ahzab: 36).
.
Semoga segera ada pemimpin visioner yang berani menerapkan seadil-adilnya aturan, yaitu seluruh aturan yang bersumber dari Sang Pencipta Allah SWT. Sehingga diberi keberkahan dari langit dan bumi.. Aamiin
.
“Jika sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan pada mereka berkah dari langit dan dari bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al A’’Raf(7):96)