banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Senin, 16 September 2019

Frekuensi kehidupan


Ada istilah "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" yang artinya sifat/perilaku seseorang tidak jauh dari orang tuanya.
.
Juga bisa diartikan mengikuti perilakunya, makanya sering profesi anak kadang tidak jauh-jauh dari orang tuanya.
.
Dalam sebuah hadits 
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378).
.
Demikianlah karena kedekatan maka mencocoki satu sama lain. Baik dalam pemikiran, sikap, dan hal yang di suka pun akan sama.
.
Kedekatan muncul karena samanya frekuensi, ibarat radio yang akan nyambung terdengar bila frekuensi pemancar dan penerima sama.
.
Menjadi wajar juga bila seseorang mencintai apa yang disukai oleh orang terkasih. Minimal tidak menyelisihi hal yang disukai.
.
Kalau sampai menyelisihi berarti sudah tidak se-frekuensi, akibatnya seperti beda frekuensi radio,  timbul noise yang tak enak.
.
Solusinya mudah, Selama hal yang dibolehkan syariat dan tidak berlebihan 
Maka cukup samakan frekuensi supaya terdengar alunan suara yang indah, menenangkan dan menguatkan jiwa.
.
Hidup ini sederhana hanya kita sendiri yang membuat jadi sulit dan berbelit.
.

Minggu, 15 September 2019

Siklus Kerusakan

SIKLUS KERUSAKAN

.

Setiap kejadian ada sebab / pemicu.
.
Sebab inilah sebagai bagian mata rantai yang tidak terpisahkan.
.
Menurut KBBI Mata rantai berarti kejadian (peristiwa, hal) yang saling berkaitan.
.
Maka dalam hal kerusakan kehidupan supaya berhenti harus bisa memutus mata rantainya.
.
Menarik saya membaca sebuah tulisan dengan judul “Cara Memutus Siklus Anak Nakal”
.
Disampaikan sebagai berikut :
Siklus Anak Baik ( siklus 1)
Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik
.
Siklus Anak nakal ( siklus 2)
Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal
.
Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.
.
Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ? ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.
Anak Nakal -> ORANGTUA RIDHO -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.
.
Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridho ketika anak kita nakal?
ini kuncinya:
.
“Bila kalian memaafkannya...menemuinya dan melupakan kesalahannya...maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 64:14).
.

Demikian kurang lebih isi tulisan tersebut, namun sedikit saya tambahkan karena tiba-tiba melompat kondisi anak nakal / anak baik padahal juga ada peran orang tua bagaimana cara mendidiknya.
.
Kembali ke memutus mata rantai kerusakan hidup. Dimana hal yang bisa JELAS kita kendalikan adalah diri sendiri.
.
Dibutuhkan kebesaran hati dari dalam diri untuk berani berkorban memutus bagian kecil mata rantai kerusakan.
.
Harus jeli jangan sampai salah memutus mata rantai bila tidak ingin malah berubah menjadi siklus yang lebih rusak. 
.
“Setiap umatku akan masuk Surga kecuali yang tidak mau?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk Surga dan barangsiapa yang tidak taat padaku maka dialah yang tidak mau (masuk Surga).” (HR.Bukhori)

Jumat, 13 September 2019

Bersyukur



Pertama pingin punya motor. Sudah punya motor pingin punya mobil.

Sudah punya mobil pingin mobil mewah.

.

Dulu numpang pingin ngontrak. Sudah ngontrak pingin beli rumah, sudah punya rumah ngerasa sempit pingin pindah rumah.

.

Dulu nganggur pingin dapet kerja.

Sudah kerja pengen naik gaji, akhirnya pindah kerja berharap gaji nambah.

.

Dulu sangat berharap ada solusi masalah. Atas izin Allah akhirnya dipermudah. Tapi malah tak amanah.

.

Demikianlah tabiat saat dunia masih melekat. Demikian banyak nikmat, tetap tak juga khidmat.

.

. “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)

.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-KU), maka pasti adzab KU sangat keras” (QS.Ibrahim : 7)

.

Pengingat diri untuk berbenah 

Selasa, 10 September 2019

Paradoks

“Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. 

.

Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

.

Membaca hadits ini seakan sebuah paradoks (seolah bertentangan) padahal sejatinya sebuah petunjuk (kunci) kehidupan. 

.

Seperti istilah “banyak memberi, maka akan banyak menerima” yaitu dengan diri berkorban untuk akhiratnya, melepas keinginan-keinginan dunia yang fana dengan ketaatan maka ganjaran berupa kecukupan di hatinya (kebahagiaan), serta dunia pun akan hadir dalam keadaan hina (tidak melekat di hati).

.

Sebaliknya bila diri “pelit berbagi, maka akan pelit dibagi” yaitu hati selalu merasa kurang terikat erat dunia (harta,kedudukan,perasaan,dll). 

.

Ini ilmu tingkat tinggi, tidak sembarang orang mampu menjalankannya. Harus selalu dilatih dengan berbagai excercise.

.

Diantaranya dengan memahami problematika umat, selalu mengingat kematian, empati terhadap penderitaan umat, bersama menguatkan dalam komunitas hijrah/dakwah, belajar agama secara kaafah, memiliki visi kehidupan yang jelas (dari mana, untuk apa hidup didunia dan akan kemana), selalu diniatkan untuk keridhoan Allah SWT, Ber amar maruf nahi munkar, dll..

Senin, 09 September 2019

Menilai orang


Di catat oleh Al Bukhari (2680), Muslim (1713), An Nasa-i (5401), At Tirmidzi (1339) dan yang lainnya,

.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Kalian menyerahkan persengketaan kalian kepadaku. Namun bisa jadi sebagian dari kalian lebih lihai dalam berargumen daripada yang lain. Maka barangsiapa yang karena kelihaian argumennya itu, lalu aku tetapkan baginya sesuatu hal yang sebenarnya itu adalah hak dari orang lain. Maka pada hakekatnya ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka. Oleh karena itu hendaknya jangan mengambil hak orang lain”.

.

Imam An Nawawi menjelaskan: “dalam riwayat lain terdapat lafadz ‘sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa‘, maksudnya, ketika sebuah persengketaan didatangkan kepadaku, bisa jadi satu pihak lebih pandai dalam menyampaikan argumen. Lalu aku menyangka bahwa ia yang benar. Dan barangsiapa yang aku menangkan perkaranya untuk mengambil hak muslim yang lain, maka sesungguhnya itu potongan api neraka baginya”.

.

Beliau juga menjelaskan, “makna sabda Nabi ‘sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa‘, maksudnya adalah penekanan tentang sifat manusiawinya, yaitu bahwa seorang manusia tidak bisa mengetahui hal gaib dan perkara-perkara yang tersembunyi, kecuali Allah menunjukkan hal itu. Ini juga penegasan bahwa semua perkara hukum yang dibolehkan bagi manusia juga dibolehkan bagi Nabi. .


Dan Nabi hanya menghukumi sesuatu sesuai apa yang zhahir (nampak), karena hanya Allah yang mengetahui perkara batin (yang tersembunyi). Sehingga keputusan hukum didasari atas bukti, sumpah atau metode lainnya yang semuanya merupakan perkara-perkara zhahir. Tentunya dengan adanya kemungkinan yang diputuskan itu menyelisihi hakekat sebenarnya. Karena yang dibebani hanyalah menghukumi secara zhahir”(Syarh Muslim, 12/5). #quotesagungns #suksesmulia #yukhijrahbisnis #motivasiislami

Minggu, 08 September 2019

Hukumi yang Dzahir



Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, .“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh.

.


Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku,"

.

“Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96)

.


Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.”

.


Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.

Bahagia ketika Allah Ridho


Pagi ini mengisi kajian tentang Menjadi Pribadi Sukses Berkah Berlimpah di Masjid Al Muttaqun, Prambanan, Klaten.

.

Setiap orang ingin bahagia, namun karena kurang pemahaman yang dikejar habis-habisan siang malam sepanjang hidup malah kesenangan semu. 

.

Kesenangan terkait kenikmatan sesaat yang ketika didapat hilang kedalam kehampaan.

.

Kesenangan bisa berupa harta benda, hiburan, jabatan, sampai dengan pemuasan perasaan.

.

Sedang Kebahagiaan hakiki adalah ketika Allah SWT Ridho. Keridhoan Allah SWT bisa terdapat di keridhoaan orang tua kepada anaknya, keridhoan suami kepada istrinya, orang yang amanah, berjuang dalam taat, ber amar maruf nahi munkar, dan sebagainya dalam lingkup TAKWA.

.

“Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina.

.

Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

.

Allahumma Inniy As-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan .

@fhklaten 

#motivasiislami #suksesmulia #yukhijrahbisnis #quotesagungns