banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Minggu, 13 Oktober 2019

Fi Amanillah


Dalam Islam ide dasarnya adalah keimanan/keyakinan kepada Allah SWT sehingga qaidah dan qiyadah fikriyahnya (landasan & kepemimpinan berpikir) berdasar perintah dan larangan Allah SWT (Syariat).

.

Sedang kapitalisme ide dasarnya adalah Sekulerisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. Jadi tujuannya hanya asas MANFAAT saja.

.

Selama bermanfaat (materi) bagi dirinya dianggap baik, sementara yang tidak bermanfaat dianggap buruk/tidak berfaedah.

.

Dalam perhelatan Muslim United kali ini dari berbagai penjuru tanah air tumplek blek berkumpul ke Jogja untuk mengikuti kajian para Ustadz-Ulama berbagai harokah.

.

Bagi yang sudah ‘terpapar’ sekulerisme  tentu hal ini sangat nggak banget, masa hanya untuk ikut kajian harus berkorban waktu, tenaga, dan biaya besar gitu sih..

.

Harus keluar ongkos bus/kereta/pesawat  belum lagi sibuk cari tempat penginapan, transport dan akomodasi selama di Jogja serta berbagai keribetan lainnya.

.

Inget ‘bro’ ini bukan dalam rangka berwisata, tapi berlelah untuk mencari ilmu agama (yang merupakan kewajiban setiap muslim).

.

Makanya buat mereka ngga banget deh... 😅 

.

Tapi saya yakin masih banyak yang pingin banget ikut hadir tapi terkendala sebab satu dan lain hal..

.

Terlebih Muslim United bukan hanya forum kajian ilmu, namun juga dalam rangka SilahUkhuwah merekatkan persatuan umat, supaya tidak mudah di pecah belah.

.


Selamat kembali kekota tujuan para ‘mujahid’ ilmu & uhkhuwah.. sampai bertemu kembali inshaAllah tahun depan dalam perhelatan Muslim United berikutnya.

.

#JogjaKotaKajian #SedulurSaklwase #MuslimUnited

Kamis, 10 Oktober 2019

Bersyukur


Ginjal bertanggung jawab untuk menyaring lebih dari 180 liter darah setiap hari. Sampah-sampah yang ada dalam tubuh diproses oleh ginjal dan dikeluarkan dalam bentuk urin. 

.

Sampah-sampah itu terdiri dari garam yang berlebih, lemak, racun dan cairan lainnya. 

.

Ketika ginjal berhenti berfungsi, darah akan cepat terisi dengan racun, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada banyak organ lain

.

Manusia sejatinya memiliki dua ginjal dan walau sulit bisa hidup dengan satu ginjal. 

.

Bila Ginjal rusak solusinya dengan donor organ. Tahukah anda Dilansir dari detik.com harga ginjal di pasar gelap seharga US$ 262.000 atau sekitar Rp 2,4 miliar.

.

Sementara harga Jantung: US$ 119.000 atau sekitar Rp 1,1 miliar dan Hati: US$ 157.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar

Subhanallah.. 

.

Maukah organ tubuh anda diambil atau ditukar dengan harga segitu ? Kalau masih berakal tentu akan menolak. 


.

Seberapapun tidak sebanding dengan nikmat sehat yang didapat.

.


Sudah seharusnya kita bersyukur atas nikmat sehat yang Allah SWT berikan.

.

Dan ini baru sebagian kecil dari berbagai kenikmatan hidup lainnya. 

.

Bersyukurlah punya kendaraan (dengan segala kendalanya), bersyukurlah punya penghasilan (seberapa pun besarnya), bersyukurlah punya keluarga  suami/istri/anak (dengan segala tantangannya), bersyukurlah punya tempat untuk tinggal, dan lain sebagainya..

.

Seharusnya diri malu bila sering mengeluh atas kondisi hidup. Lupa bahwa demikian banyak kenikmatan yang telah didapat.

.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).


.

Dan bukti syukur yang haq adalah TAAT tanpa tapi dan nanti... 

Jumat, 04 Oktober 2019

Man jadda wa jada


Man Jadda Wa Jadda, Barangsiapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil.

.


Sunatullahnya yang bersungguh-sungguh akan menikmati hasilnya.

.

Yang ingin badan kurus bersungguh-sungguh olahraga, mengatur pola makan, menahan godaan makan enak.

.

Yang ingin sukses bisnis/karir bersungguh-sungguh belajar, ikhtiar, tawakal, dan jalankan sesuai syariat.

.

Yang ingin anaknya sholeh/ha bersungguh-sungguh aplikasikan ilmu parenting Islami.

.

Yang ingin keluarga samara bersungguh-sungguh jalankan fikih keluarga.

.

Dan seterusnya.. dan seterusnya..

.

Namun Bersungguh-sungguh membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit.

Terlebih bila semua keinginan tersebut tujuan akhirnya untuk keridhoan Allah SWT. Harus dengan perjuangan dan pengorbanan.

.

Dibutuhkan tekad kuat, istiqomah, huznudzon, kesabaran, ketaatan, tawakal dan keyakinan untuk menggapainya.

.

Maaf.. untuk ini agak “mahal” “harga” yang harus “dibayar”, hanya untuk yang “kuat” saja.

.

"Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga." (HR. Al-Tirmidzi)

Minggu, 29 September 2019

Hawa Nafsu


Yang namanya 'fitrah' itu merupakan sebuah 'takdir Allah' yang tidak dapat kita hindari adanya, sehingga tidak bisa kita katakan itu 'baik atau buruk'

.


Tidak ada hisab pada manusia terhadap takdir Allah, termasuk tidak ada hisab atas 'kepemilikan akal dan hawa nafsu'...

.

Yang akan dihisab adalah 'bagaimana ia menempatkan hawa nafsu itu', atau 'ke arah mana ia menggerakkannya'...

.

Inilah yang dapat menentukan / menjadikan jiwa kita 'bersih' atau 'kotor'...


'Hawa nafsu 'cenderung' pada keburukan', ketika kita menyandarkan seluruh perbuatan kita pada 'hawa nafsu' semata atau 'hawa nafsu' sebagai yang utama

.

Manusia akan 'dikuasai' dan 'diperbudak' oleh hawa nafsu-nya..

.

Lantas bagaimana seharusnya menempatkan dan mengarahkan 'hawa nafsu' ??

.

Hanya ada dua tahap, yaitu dengan menempatkan 'akal' berada di atas 'hawa nafsu' bukan di bawahnya, sehingga dalam melakukan segala sesuatu, mempersyaratkan kita untuk melakukan 'proses berpikir' terlebih dahulu...

.

Yang kedua, yaitu dengan menjadaikan 'wahyu' (Quran dan Sunnah) sebagai dasar dalam melakukan segala perbuatan, termasuk dalam 'proses berpikir' (dasar bagi 'akal' dan membawahi 'hawa nafsu')..

.

Dengan dua hal tersebut, maka 'pikiran dan perasaan' manusia akan menjadi 'pikiran dan perasaan yang islami' yang membentuk 'kepribadian islami' (Syakhsiyyah islamiyyah)...

.

Ketika hal itu terjadi 'islam telah menjadi sendi kehidupannya', hawa nafsunya condong pada 'kebaikan bukan keburukan', 'dikuasai bukan menguasainya', dan dalam segala aktivitasnya ia melakukan 'proses berpikir yang disandarkan pada wahyu'...

.


"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami Telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu." (QS. Al Mu'minun : 71)

.

"Dan siapakah orang yang lebih sesat dari orang yang telah mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah” (QS. Al Qashash : 50). 


#motivasiislami #suksesmulia #hawanafsu #quotesagungns #sukses 


Selasa, 24 September 2019

Akal dan Pikiran yang terbatas



Akal & Perasaan Manusia

.

Akal manusia sangat terbatas, tidak akan mampu menjawab persoalan kehidupan yang pelik.

.

Contohnya Riba, dengan logika yang terbatas beranggapan bahwa bunga itu sama saja seperti upah atas manfaat.

.

Misal orang pinjamkan mobil, atas manfaat gunakan mobil tersebut diberikan upah / biaya sewa.

.

Begitu juga orang pinjamkan uang, atas manfaat gunakan uang tersebut diberikan bayaran/bunga.

.

Sekilas tak ada bedanya, namun sejatinya beda bak bumi dan langit.

.


Sebab apa ? Sebab petunjuk kehidupan telah turun secara sempurna sebagai guidance of life.

.

Ketika Al Quran dan As Sunnah telah menurunkan perintah dan larangan maka pastilah ada kemaslahatan di dalamnya.

.

Tantangannya bagaimana akal dan perasaan bisa seiring sejalan.

.

Menurut guru saya “berikan pemahaman akal bisa 1 Menit selesai, namun tidak bagi perasaan, akan muncul banyak pertentangan di hati”

.

Bila terkait urusan hati/perasaan butuh kebesaran jiwa yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang IKHLAS

..

““Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

.

#suksesmulia #motivasiislami #quotesagungns 

Senin, 16 September 2019

Frekuensi kehidupan


Ada istilah "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" yang artinya sifat/perilaku seseorang tidak jauh dari orang tuanya.
.
Juga bisa diartikan mengikuti perilakunya, makanya sering profesi anak kadang tidak jauh-jauh dari orang tuanya.
.
Dalam sebuah hadits 
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378).
.
Demikianlah karena kedekatan maka mencocoki satu sama lain. Baik dalam pemikiran, sikap, dan hal yang di suka pun akan sama.
.
Kedekatan muncul karena samanya frekuensi, ibarat radio yang akan nyambung terdengar bila frekuensi pemancar dan penerima sama.
.
Menjadi wajar juga bila seseorang mencintai apa yang disukai oleh orang terkasih. Minimal tidak menyelisihi hal yang disukai.
.
Kalau sampai menyelisihi berarti sudah tidak se-frekuensi, akibatnya seperti beda frekuensi radio,  timbul noise yang tak enak.
.
Solusinya mudah, Selama hal yang dibolehkan syariat dan tidak berlebihan 
Maka cukup samakan frekuensi supaya terdengar alunan suara yang indah, menenangkan dan menguatkan jiwa.
.
Hidup ini sederhana hanya kita sendiri yang membuat jadi sulit dan berbelit.
.

Minggu, 15 September 2019

Siklus Kerusakan

SIKLUS KERUSAKAN

.

Setiap kejadian ada sebab / pemicu.
.
Sebab inilah sebagai bagian mata rantai yang tidak terpisahkan.
.
Menurut KBBI Mata rantai berarti kejadian (peristiwa, hal) yang saling berkaitan.
.
Maka dalam hal kerusakan kehidupan supaya berhenti harus bisa memutus mata rantainya.
.
Menarik saya membaca sebuah tulisan dengan judul “Cara Memutus Siklus Anak Nakal”
.
Disampaikan sebagai berikut :
Siklus Anak Baik ( siklus 1)
Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik
.
Siklus Anak nakal ( siklus 2)
Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal
.
Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.
.
Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ? ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.
Anak Nakal -> ORANGTUA RIDHO -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.
.
Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridho ketika anak kita nakal?
ini kuncinya:
.
“Bila kalian memaafkannya...menemuinya dan melupakan kesalahannya...maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 64:14).
.

Demikian kurang lebih isi tulisan tersebut, namun sedikit saya tambahkan karena tiba-tiba melompat kondisi anak nakal / anak baik padahal juga ada peran orang tua bagaimana cara mendidiknya.
.
Kembali ke memutus mata rantai kerusakan hidup. Dimana hal yang bisa JELAS kita kendalikan adalah diri sendiri.
.
Dibutuhkan kebesaran hati dari dalam diri untuk berani berkorban memutus bagian kecil mata rantai kerusakan.
.
Harus jeli jangan sampai salah memutus mata rantai bila tidak ingin malah berubah menjadi siklus yang lebih rusak. 
.
“Setiap umatku akan masuk Surga kecuali yang tidak mau?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk Surga dan barangsiapa yang tidak taat padaku maka dialah yang tidak mau (masuk Surga).” (HR.Bukhori)

Jumat, 13 September 2019

Bersyukur



Pertama pingin punya motor. Sudah punya motor pingin punya mobil.

Sudah punya mobil pingin mobil mewah.

.

Dulu numpang pingin ngontrak. Sudah ngontrak pingin beli rumah, sudah punya rumah ngerasa sempit pingin pindah rumah.

.

Dulu nganggur pingin dapet kerja.

Sudah kerja pengen naik gaji, akhirnya pindah kerja berharap gaji nambah.

.

Dulu sangat berharap ada solusi masalah. Atas izin Allah akhirnya dipermudah. Tapi malah tak amanah.

.

Demikianlah tabiat saat dunia masih melekat. Demikian banyak nikmat, tetap tak juga khidmat.

.

. “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)

.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-KU), maka pasti adzab KU sangat keras” (QS.Ibrahim : 7)

.

Pengingat diri untuk berbenah 

Selasa, 10 September 2019

Paradoks

“Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. 

.

Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

.

Membaca hadits ini seakan sebuah paradoks (seolah bertentangan) padahal sejatinya sebuah petunjuk (kunci) kehidupan. 

.

Seperti istilah “banyak memberi, maka akan banyak menerima” yaitu dengan diri berkorban untuk akhiratnya, melepas keinginan-keinginan dunia yang fana dengan ketaatan maka ganjaran berupa kecukupan di hatinya (kebahagiaan), serta dunia pun akan hadir dalam keadaan hina (tidak melekat di hati).

.

Sebaliknya bila diri “pelit berbagi, maka akan pelit dibagi” yaitu hati selalu merasa kurang terikat erat dunia (harta,kedudukan,perasaan,dll). 

.

Ini ilmu tingkat tinggi, tidak sembarang orang mampu menjalankannya. Harus selalu dilatih dengan berbagai excercise.

.

Diantaranya dengan memahami problematika umat, selalu mengingat kematian, empati terhadap penderitaan umat, bersama menguatkan dalam komunitas hijrah/dakwah, belajar agama secara kaafah, memiliki visi kehidupan yang jelas (dari mana, untuk apa hidup didunia dan akan kemana), selalu diniatkan untuk keridhoan Allah SWT, Ber amar maruf nahi munkar, dll..

Senin, 09 September 2019

Menilai orang


Di catat oleh Al Bukhari (2680), Muslim (1713), An Nasa-i (5401), At Tirmidzi (1339) dan yang lainnya,

.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Kalian menyerahkan persengketaan kalian kepadaku. Namun bisa jadi sebagian dari kalian lebih lihai dalam berargumen daripada yang lain. Maka barangsiapa yang karena kelihaian argumennya itu, lalu aku tetapkan baginya sesuatu hal yang sebenarnya itu adalah hak dari orang lain. Maka pada hakekatnya ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka. Oleh karena itu hendaknya jangan mengambil hak orang lain”.

.

Imam An Nawawi menjelaskan: “dalam riwayat lain terdapat lafadz ‘sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa‘, maksudnya, ketika sebuah persengketaan didatangkan kepadaku, bisa jadi satu pihak lebih pandai dalam menyampaikan argumen. Lalu aku menyangka bahwa ia yang benar. Dan barangsiapa yang aku menangkan perkaranya untuk mengambil hak muslim yang lain, maka sesungguhnya itu potongan api neraka baginya”.

.

Beliau juga menjelaskan, “makna sabda Nabi ‘sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa‘, maksudnya adalah penekanan tentang sifat manusiawinya, yaitu bahwa seorang manusia tidak bisa mengetahui hal gaib dan perkara-perkara yang tersembunyi, kecuali Allah menunjukkan hal itu. Ini juga penegasan bahwa semua perkara hukum yang dibolehkan bagi manusia juga dibolehkan bagi Nabi. .


Dan Nabi hanya menghukumi sesuatu sesuai apa yang zhahir (nampak), karena hanya Allah yang mengetahui perkara batin (yang tersembunyi). Sehingga keputusan hukum didasari atas bukti, sumpah atau metode lainnya yang semuanya merupakan perkara-perkara zhahir. Tentunya dengan adanya kemungkinan yang diputuskan itu menyelisihi hakekat sebenarnya. Karena yang dibebani hanyalah menghukumi secara zhahir”(Syarh Muslim, 12/5). #quotesagungns #suksesmulia #yukhijrahbisnis #motivasiislami

Minggu, 08 September 2019

Hukumi yang Dzahir



Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, .“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh.

.


Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku,"

.

“Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96)

.


Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.”

.


Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.

Bahagia ketika Allah Ridho


Pagi ini mengisi kajian tentang Menjadi Pribadi Sukses Berkah Berlimpah di Masjid Al Muttaqun, Prambanan, Klaten.

.

Setiap orang ingin bahagia, namun karena kurang pemahaman yang dikejar habis-habisan siang malam sepanjang hidup malah kesenangan semu. 

.

Kesenangan terkait kenikmatan sesaat yang ketika didapat hilang kedalam kehampaan.

.

Kesenangan bisa berupa harta benda, hiburan, jabatan, sampai dengan pemuasan perasaan.

.

Sedang Kebahagiaan hakiki adalah ketika Allah SWT Ridho. Keridhoan Allah SWT bisa terdapat di keridhoaan orang tua kepada anaknya, keridhoan suami kepada istrinya, orang yang amanah, berjuang dalam taat, ber amar maruf nahi munkar, dan sebagainya dalam lingkup TAKWA.

.

“Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina.

.

Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

.

Allahumma Inniy As-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan .

@fhklaten 

#motivasiislami #suksesmulia #yukhijrahbisnis #quotesagungns

Rabu, 04 September 2019

Hijrah Tak Menunggu Siap



Hijrah Tak Menunggu Siap
.
Mau bisnis nunggu modal, 
akhirnya tak pernah mulai.
.
Mau nikah nunggu mapan,
akhirnya tak jua ke pelaminan.
.
Mau berhijab nunggu hati mantap, akhirnya hanya angan gelap.
.
Mau bebas riba nunggu dana,
akhirnya semakin terhina.
.
Mau tuntas masalah nunggu hidayah, akhirnya semakin derita.
.
Jangan pernah menunggu siap. Karena hijrah tidak butuh kesiapan, tetapi keberanian untuk berbuat. 
.
Ketika sudah bertindak, maka kesiapan datang menguat.
.
“...maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Minggu, 01 September 2019

Keridhoan

Kebahagiaan hakiki itu bukan karena berlimpahnya harta, materi, senang gembira, dan hal-hal perkara dunia. Karena itu semua fana dapat hilang dalam sekejap mata, entah kini atau nanti.

.

Namun tak lain kebahagiaan hakiki itu adalah ketika Allah SWT ridho.

.

Kata Ridho berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata rodiya yang berarti senang, suka, rela. Sedikitnya, Alquran dan hadis menyebutkan tiga hal ridha yang diperintahkan.

.

Pertama, ridha seseorang terhadap Allah sebagai Rabbnya, agama Islam sebagai dinnya, dan Nabi Muhammad sebagai rasulnya. Yaitu dibuktikan dengan menjalankan setiap syariat-Nya.

.

Dari ‘Abbas bin Abdul Muththalib, Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai nabi dan rasulnya." (HR Muslim). “Mereka yang ridha kepada Allah maka Allah pun meridhai mereka” (QS al-Mujadalah: 22).

.

Kedua, ridha orang tua terhadap anaknya. Ridha Allah SWT bergantung pada ridha orang tua yaitu dengan berbakti kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan merawat kita.

.

 Rasulullah ﷺ bersabda, "Ridha Allah SWT tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah SWT tergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim).

.

Ketiga, ridha suami kepada istrinya diawali dengan niat karena Allah istri taat kepada suaminya yang selama tidak melanggar syariat kan berbalas ridho Allah. "Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya maka ia masuk surga." (HR at-Tirmidzi).

.

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani)

.

Ketika dijalankan maka “Selamat !” kesabaranmu tak kan sia-sia karena diniatkan dan dijalankan sesuai tuntunan.

#motivasiislami #suksesmulia #suksesmuda #yukhijrah #yukhijrahbisnis #quotesagungns

Sabtu, 31 Agustus 2019

Tahun baru 1441 Hijriah


Tahun Baru Semangat Baru!

.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan tahun pertama dihitung dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah.

.

Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan.

.

Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior. 

.

Mereka kemudian bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah SAW. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rasul.

.

Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).

.

Relevansinya di kehidupan sekarang dalam konteks Hijrah sangat banyak sekali. 

.

Mulai dari cakupan individu seputar makanan, minuman, pakaian, akhlak, ibadah. Sampai cakupan muamalah seputar ekonomi, sosial, bernegara (pidana, politik, pemerintahan).

.

Dari hijrahnya seorang muslim dengan kehidupan yang sekuler menuju kepada islam secara kaffah (totalitas).

.

Jika tidak, yang terjadi seakan halusinasi hijrah, seakan-akan tampak namun sejatinya cover belaka.


Minggu, 25 Agustus 2019

Ukhuwah Sejati



Sewajarnya diri tak rela melihat adik nya di pukuli.

.

Sewajarnya diri tak rela melihat kakaknya di hina sepanjang hari.

.

Sewajarnya diri juga tak rela melihat anaknya diperlakukan tak manusiawi.

.

Pun sewajarnya diri tak kan rela melihat orang tuanya di caci maki.

.

Demikianlah sewajarnya hati ini terluka melihat orang yang disayangi tersakiti.

.

Ikut merasakan sakit, sedih dan luka seakan seharmoni.   

.

Demikianlah sejatinya sikap mukmin dengan mukmin yang lain, seperti satu tubuh yang ikut merasakan bila ada yang melukai.

.

Namun kini jangankan ikut merasakan, malah banyak yang menyakiti karena hati yang telah mati.

.

Seakan ikut memukuli, menghina, dan mencaci demi kepuasan ego diri.

.

Tak sadar ketika menyakiti justru melukai diri sendiri. 

.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

.

Bersama menguatkan sehidup sesurga dalam dekapan ukhuwah sejati.

.

Akankah menyadari ?

Selasa, 20 Agustus 2019

Derajat ujian


Urutan tingkat ujian ini seperti mengurutkan tingkat pendidikan dari profesor, doktor, pascasarjana, sarjana, SMA, SMP, SD, dan TK.
.
Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Tirmidzi]
.

Bila ingin menjadi orang sholeh tidak bisa didapat dengan bersenang-senang, tetapi melalui perjuangan yang berat. 
.
Bagaimana tidak, syariat mengatur setiap perilaku manusia, baik berupa perintah dan larangan yang demikian banyak. Sampai-sampai disebutkan dalam hadits bahwa dunia penjaranya orang beriman.
.
Juga, menjadi orang sholeh berarti harus siap dengan ujian Allah yang lebih berat dari yang lainnya. 
.

Tak ada pilihan untuk mengelak dari ujian Allah. Seperti halnya anak sekolah yang tak bisa mengelak dari ujian di sekolahnya. 

.
Semua proses yang berjalan harus dilewati. Siapa yang lulus, masuk ke tahap yang lebih tinggi. Siapa yang gagal, akan mengulang di kelas yang sama atau mungkin diturunkan ke kelas yang di bawahnya.
.
Harusnya ketika ujian datang, seorang mukmin bisa bergembira dan mensyukuri hal itu. Dengan adanya ujian berarti ia memasuki fase kenaikan kelas. 
.
Jika ia berhasil melewati dengan penuh kesabaran dan mendapat Ridho-Nya (dijalankan sesuai syariat),  maka ia naik ke kelas berikutnya. 

.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian bala’ dan sesungguhnya siapa yang ridha mendapat ujian, tentu baginya keridhaan Allah, dan siapa yang murka mendapat ujian, tentu baginya murka Allah.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).
.

Minggu, 18 Agustus 2019

Cobaan hidup


Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat yang dijamin masuk surga tak terlepas dari berbagai ujian.
.
Apalagi sebagai manusia biasa yang hidup di akhir zaman. Tidak akan bisa lari dari ujian.
.
Ibarat pepatah “mati satu tumbuh seribu”
.
Masalah kan selalu ada, selesai satu berganti ke yang lain.
.
Jangan mencoba lari.
.
Menghindar hanyalah PENUNDAAN ke masalah yang lebih besar.
.
Terima dan hadapi justru itulah yang mempercepat penghapus dosa di masa lalu.

.

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Tirmidzi]



Selasa, 13 Agustus 2019

Pengorbanan



Sunatullahnya barangsiapa bersungguh-sungguh akan menikmati hasilnya.

.

Yang ingin badan kurus bersungguh-sungguh olahraga, mengatur pola makan, menahan godaan makan enak.

.

Yang ingin sukses bisnis/karir bersungguh-sungguh ikhtiar diiringi jalankan syariat muamalah.

.

Yang ingin anak sukses (dunia-akhirat) bersungguh-sungguh belajar dan menjalankan ilmu parenting Islami.

.

Yang ingin keluarga samara bersungguh/sungguh belajar dan menjalankan fikih keluarga.

.

Dan seterusnya.. dan seterusnya..

.

Namun Bersungguh-sungguh membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit.

Dibutuhkan tekad kuat, pikiran positif, konsistensi, kesabaran, ketaatan, keimanan (tauhid), dan keyakinan untuk mencapainya.

.

Terlebih bila tujuan besarnya untuk masuk surga-Nya Allah. Tidak ada ceritanya bersantai-santai tanpa perjuangan dan pengorbanan.

.

Maaf.. untuk ini agak “mahal” “harga” yang harus “dibayar”, hanya untuk yang rela berkorban untuk menggapai keridhoan Allah SWT.

.

"Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga." (HR. Al-Tirmidzi)

.

Minggu, 11 Agustus 2019

Bersikap adil


Seorang guru beri pelajaran hidup kepada muridnya yang suka bicara keburukan orang.

.

Diperlihatkan selembar kertas putih dengan titik hitam di tengah,  lalu ditanya “apakah ini?”

.

Jawaban muridnya yang juga seperti kebanyakan orang, “itu adalah titik hitam”. 

.

“Salah!” Tegas sang Guru, “Ini Selembar kertas putih yang bersih, dengan satu titik kecil saja.”

.

Gurunya melanjutkan, “Sama seperti orang yang banyak berbuat baik, kemudian lakukan kesalahan. Maka sebagian besar fokus pada kesalahannya. Padahal kebaikan yang dilakukan sangatlah banyak. Maka janganlah melihat orang hanya dari keburukannya, tentu banyak juga kebaikan darinya.”

.

Lanjut sang Guru “Setiap orang pasti punya salah. Kita wajib adil memandang kehidupan. Kita saja masih jauh dari sempurna, seandainya Allah SWT buka aib kita tentu terasa sangat hina-lah diri ini”

.

“...janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [QS. Al Maa’idah: 8]

.

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar” [QS.an-Nahl:126]

.