banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Sabtu, 25 Mei 2024

Karak Tea

Karak Tea
#CeritaHaji1445H





Teh Karak adalah teh tradisional Khas Qatar yang dibuat dari campuran teh, susu, air, gula, dan kapulaga yang direbus bersama dengan api kecil. Beberapa orang juga menambahkan bumbu lain seperti kayu manis, cengkeh, atau kunyit untuk menambah cita rasa.

Teh Karak aslinya berasal dari India atau Pakistan, yang dikenal dengan nama Masala Chai atau Teh Masala. Secara harafiah arti dari teh masala adalah teh dengan rempah-rempah yang kental. Kata chai sendiri berasal dari bahasa Cina yang artinya Teh. Konon teh karak dibawa oleh para pekerja yang datang ke Qatar dari India dan Pakistan pada tahun 1950 - 1960. 

Pada saat itu para pekerja datang pada masa pembangunan infrastruktur Qatar, mereka membawa racikan teh masala. Para masyarakat yang tertarik mencoba mencicipinya, lama kelamaan teh masala mulai mendapat sentuhan bahan-bahan lokal untuk menyesuaikan dengan lidah masyarakat. Seiring berjalannya waktu, teh karak meresap ke dalam budaya makanan lokal, menjadi minuman panas yang dinikmati di keseharian orang Qatar.

Adat (tradisi) ada yang bertentangan dengan syariat dan ada yang tidak. Jika bertentangan dengan syariat, maka syariat datang untuk menghilangkan dan mengubahnya. Sebabnya, salah satu fungsi syariat adalah mengubah tradisi atau adat yang rusak.

Jika ada yang tidak bertentangan dengan syariat, maka hukumnya ditetapkan oleh syariat dengan dalil syariat. Karena itulah, bukan ‘urf (konvensi) yang menentukan syariat, tetapi syariatlah yang menentukan status tradisi dan adat istiadat tersebut.

Teh Karak menjadi tradisi minum orang Qatar karena memang minuman ini halal dikonsumsi, sehingga walau teh ini hasil kulturisasi budaya China, India dan Pakistan menjadi salah satu “produk” pencampuran tradisi yang diperbolehkan.

Haji Momentum Persatuan Umat

Haji Momentum Persatuan Umat





Ibadah haji memang merupakan ibadah mahdhah yang kental dengan nuansa ruhiah dan spiritual. 

Namun demikian, ibadah haji tidak boleh hanya dimaknai sekadar ritual belaka. 

Ibadah haji, sebagaimana yang dilakukan pada masa Rasulullah saw., juga diteruskan oleh para khalifah setelahnya, tidak boleh kehilangan makna politis dan ideologisnya yaitu persatuan umat.

Dari sini seharusnya tumbuh kesadaran dan tekad untuk mewujudkan persatuan umat Islam yang hakiki di bawah satu kepemimpinan. 

Yang akan membawa kepada kedigdayaan, menuju super power dunia menyaingi peradaban kapitalis yang rusak.