banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Selasa, 22 Desember 2020

Akal


Sejatinya, Allah SWT telah menyimpan fitrah yang suci pada hati manusia. 


Fitrah ini akan mengatakan "tidak" terhadap perilaku maksiat sekecil apapun. 


Boleh jadi orang sudah terbiasa dengan kemaksiatan/kedurhakaan-hingga ia tidak risih lagi melakukannya, namun hati kecilnya tidak akan bisa dibohongi.


Ketika seseorang melakukan kemaksiatan, maka hatinya selalu mengatakan tidak dan menolak perilaku tersebut.


Pada suatu waktu, bisa jadi, orang akan menganggap buruk sebuah kebaikan. 


Ketika sedang benci kepada seseorang, biasanya sebaik apapun amal yang dilakukan orang tersebut, dia melihatnya sebagai kejelekan.


Karena itu, kalau ukuran kebaikan disandarkan pada pendapat manusia, maka akan relatif sifatnya. 


Sedangkan yang namanya kebaikan tidak bisa "direlatifkan". 


Salah satu cara memahami sebuah kejadian adalah dengan MUHASABAH, benar-benar merenungi penuh kejujuran melihat kejadian secara menyeluruh berlandaskan perintah dan larangan Allah.


Rasulullah SAW bersabda: "Kebaikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia" (HR Muslim). 


Rasulullah SAW mengungkapkan tanda-tanda buruknya sebuah perbuatan. Yaitu, tanda yang bersifat internal datang dari dalam diri berupa gelisahnya hati dan rasa sesak dalam dada (gundah gulana). 


Walaupun semua orang mengatakan (memfatwakan) kebenaran perbuatan tersebut. 


Tanda kedua bersifat eksternal datang dari luar, yaitu berupa keengganan untuk diketahui orang lain atas FAKTA Kejadian SEBENARNYA. 


Itulah sebabnya setiap prilaku maksiat cenderung dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak mau diketahui dan menutup-nutupi.


Maka diperlukan Muhasabah diri kedepankan kejernihan hati, gunakan akal untuk memahami, dan memutus atas dasar yang hakiki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar