bisnis dan agama antara manfaat dan syariat
Saya Sering baca komentar begini: 'Ah, bisnis ya bisnis aja, jangan bawa-bawa agama.' pertanyaannya, bener enggak Apakah agama itu cuma urusan ibadah dan harus dipisahkan dari urusan bisnis kita? Hari ini, saya mau ngajak kalian ngobrol santai soal ini.
Jadi gini. Ini soal prinsip dasar berpikir. Ada dua, teman-teman.Yang pertama, ini yang sering kali tanpa sadar kita anut. Prinsipnya, selama bermanfaat buat saya, ya itu baik. Selama enggak bermanfaat, ya itu buruk. Akhirnya, kita jadi punya ukuran benar-salah itu dari 'manfaat' semata. Atau kata kerennya, asas manfaat. Nah, kalau kita cermati, ini sebenarnya adalah cara pikir sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan
Nah, yang kedua, sebagai muslim, seharusnya kita punya prinsip yang berbeda. Yaitu asas syariat. Artinya, apapun yang kita lakukan, termasuk bisnis, ukuran utamanya adalah: Apakah ini sesuai dengan perintah dan larangan Allah? Bukan cuma soal enak atau enggak, cuan atau enggak.
Jadi bedanya di sini. Kalau kita cuma pake asas manfaat, kita jadi suka-suka hati. Halal atau haram jadi enggak penting, yang penting cuan dan untung. Padahal, kalau kita ngaku muslim, urusan bisnis itu bagian dari ibadah kita juga.
Untuk itu kita wajib banget untuk belajar fiqih muamalah, minimal yang berkaitan sama bisnis yang kita geluti. Jangan sampai kita, gara-gara asyik cari untung, malah menghalalkan yang Allah haramkan,
kesimpulannya, teman-teman. Bawa agama dalam bisnis itu bukan untuk bikin ribet atau memperlambat kita.
Justru sebaliknya, ini adalah 'pagar' yang membuat bisnis kita tetap sehat, jujur, dan penuh keberkahan. Karena kita punya landasan yang jelas, bukan cuma soal untung-rugi sesaat.
Salam Sukses Berkah Berlimpah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar