Kamu Tidak Sadar, Tapi Kamu Sedang Melukai Diri Sendiri
Pernah nggak kamu sadar...
Setiap kali kamu iri melihat hidup orang lain,
Kamu sebenarnya sedang menikam hatimu sendiri?
Setiap kali kamu mengeluh soal rezeki,
Kamu sebenarnya sedang meracuni pikiranmu?
Setiap kali kamu membandingkan hidupmu dengan mereka,
Kamu sebenarnya sedang membakar kebahagiaanmu sendiri?
Dan yang paling menyedihkan:
Kamu tidak sadar sedang melukai diri sendiri,
Karena kamu sibuk melihat luka orang lain.
Padahal Allah sudah menjamin rezekimu.
Sejak 4 bulan dalam kandungan ibumu.
Tanpa kamu minta. Tanpa kamu usaha.
Jadi, berhentilah melukai diri sendiri.
Mulailah bersyukur.
Karena luka karena iri, hanya kamu yang merasakan.
Dan syukur karena nikmat, hanya kamu yang menuai.
1.KULIHAT MEREKA, KULIHAT DIRIKU
Dulu, aku sering memandang hidup orang lain.
Terasa begitu nikmat, sempurna, dan penuh keberuntungan.
Tapi suatu hari, aku sadar...
Bahwa di balik senyum mereka, ada perjuangan yang tak terlihat.
Di balik ketenangan mereka, ada kepasrahan yang dalam.
Mereka pandai menutupi kekurangan,
Bukan dengan pura-pura,
Tapi dengan syukur yang tulus.
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."
(QS. Ibrahim: 34)
2.MEREKA BAHAGIA BUKAN KARENA SEMPURNA
Aku melihat saudaraku tenang tanpa ujian.
Ternyata ia menikmati badai hujan dalam hidupnya.
Aku melihat sahabatku begitu sempurna.
Ternyata ia berbahagia menjadi apa adanya.
Mereka tidak menunggu sempurna untuk bahagia.
Mereka bahagia karena menerima apa yang ada.
"Lihatlah orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat orang yang berada di atasku. Maka itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah."
(HR. Muslim)
3.AKU YANG KURANG BERSYUKUR
Setiap hari aku belajar mengamati hidup orang lain.
Hingga akhirnya aku sadar...
Akulah yang selama ini kurang mensyukuri nikmat-Nya.
Di belahan dunia lain,
Masih ada yang belum seberuntung yang kumiliki saat ini.
Air minum, makanan hangat, tempat berteduh...
Itu semua adalah keajaiban yang sering kulupakan.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
(QS. Ibrahim: 7)
4.REZEKI TAHU DI MANA AKU BERADA
Aku tak perlu iri dengan rezeki orang lain.
Mungkin aku tak tahu di mana rezekiku...
Tapi rezekiku tahu di mana aku berada.
Dari lautan biru, bumi, gunung, dan langit,
Allah telah memerintahkan semuanya
Berjalan menuju kepadaku.
Sejak dalam kandungan ibuku,
Allah telah menjamin rezekiku.
"Wahai anak Adam, jika engkau bertakwa kepada-Ku, Aku cukupkan rezekimu dan Aku selesaikan urusanmu."
(HR. Ibnu Majah)
5.BEKERJA ITU IBADAH, REZEKI ITU URUSAN-NYA
Amatlah keliru bila menganggap rezeki
Dimaknai dari hasil bekerja.
Karena bekerja adalah ibadah,
Sedang rezeki itu urusan-Nya.
Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan
Apa yang telah dijamin-Nya,
Adalah kekeliruan yang berganda.
Manusia membanting tulang demi angka di rekening,
Yang mungkin esok akan ditinggal mati.
"Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara."
(QS. Al-Ahzab: 3)
6.REZEKI ITU KEJUTAN
Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita.
Allah menaruh di mana saja yang Dia kehendaki.
Ingatlah kisah Ismail 'alaihissalam...
Siti Hajar berlari bolak-balik 7 kali antara Shafa dan Marwa,
Tapi Zamzam justru muncul dari kaki sang bayi.
Ikhtiar itu perbuatan.
Rezeki itu kejutan.
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka."
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)
7.REZEKI ADALAH "HAK PAKAI", BUKAN "HAK MILIK"
Satu hal yang kini aku ketahui:
Allah tak pernah mengurangi ketetapan-Nya.
Hanya aku yang masih mengkufuri nikmat takdir Ilahi.
Dan yang tak boleh dilupakan:
Setiap hakikat rezeki akan ditanya kelak...
"Darimana engkau mendapatkannya?"
"Digunakan untuk apa?"
Karena rezeki hanyalah "hak pakai",
Bukan "hak milik".
Halalnya saja dihisab,
Dan haramnya diadzab.
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana diamalkan, hartanya dari mana didapat dan ke mana dibelanjakan, dan tubuhnya untuk apa digunakan."
(HR. Tirmidzi)
“
Maka,
Bersyukurlah.
Bekerjalah dengan ikhlas.
Dan pasrahkan rezekimu pada-Nya.
Karena Dia-lah sebaik-baik pemberi rezeki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar