banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Jumat, 20 November 2020

Menghukumi yang dhahir

Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus kami ke Huragah di suku Juhainah. Pada suatu pagi kami menyerbu mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar, berpapasan dengan salah seorang di antar mereka. 
.
Ketika kami telah mengepungnya, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” (Tiada Tuhan selain Alla); sahabat Anshar tadi melepaskannya tetapi saya menikamnya dengan tombak sehingga terbunuh. Ketika kami sampai di Madinah, berita itu telah sampai pada Nabi saw. maka beliau memanggil saya:
.

Rasulullah saw. bertanya: “Apakah ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” kemudian kamu membunuhnya?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia mengucapkan kalimat itu hanya karena takut pada pedang.” Beliau bertanya: “Apakah sudah kamu belah dadanya, sehingga kamu mengetahui isi hatinya, apakah ia mengucapkan kalimat itu dengan tulus atau tidak?” Beliau mengulang-ulangi pertanyaan itu, sehingga perasaan saya ingin untuk baru masuk Islam pada hari itu.” (HR Bukhori)
.
Begitu juga dalam kehidupan kantor misalkan.Ada seorang staff A berselisih dengan staff B hingga si B melakukan perbuatan buruk. 
.
Staff A minta keadilan kepada bosnya selaku pemimpin. Akhirnya staf B dihukum dan meminta maaf (walau terpaksa seperti hadits diatas), bahkan mengikuti apa-apa saja yang dimau si A.
.
Namun si A malah berbalik dengan alasan si B tidak tulus dari hati. Awalnya sang Bos berusaha pelan2 beri pemahaman kepada A, tapi tetap juga tidak terima.
.
Hingga akhirnya si A melawan bosnya yang notabene pemimpin yang memiliki wewenang keputusan,dengan alasan tidak adil dan tidak konsisten. Maka si A berbalik menjadi seorang yang dzolim.
.
“... Maka siapa saja yang nampak berbuat baik kepada kami niscaya kami mempercayai dan mendekatinya dan kami tidak perlu mempermasalahkan urusan batin. Allah lah yang memperhitungkan masalah batinnya. Dan siapa saja yang nampak berbuat jahat kepada kami niscaya kami tidak mempercayai dan membenarkannya walaupun ia mengatakan bahwa batinnya (niat)nya baik.” (HR Bukhari) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar