banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Senin, 07 November 2022

Target yang jelas bikin Hepi


Mengapa Dalam bisnis harus menetapkan target yang jelas ?

Seperti target harian, target bulanan atau target tahunan.

Selain perjelas arah perusahaan alasan lainnya untuk membangkitkan hormon dopamin.

Jadi DOPAMIN bisa MENIMBULKAN PERASAAN senang saat kita mengerjakan suatu target yang harus diselesaikan. 

Pekerjaan menjadi ringan ketika dikerjakan dengan senang.


Hormon dopamin disebut juga sebagai hormon pengendali emosi. Saat diproduksi dalam jumlah yang tepat, hormon ini akan meningkatkan suasana hati sehingga orang akan merasa lebih senang dan bahagia.


Sebaliknya, kekurangan hormon ini akan membuat suasana hati menjadi buruk, bahkan meningkatkan risiko terjadinya depresi.


Dopamin bertanggung jawab atas perasaan puas setelah kita menyelesaikan tugas penting, menyelesaikan sebuah proyek, mencapai suatu tujuan, atau mencapai salah satu titik keberhasilan dalam perjalanan mencapai tujuan yang lebih besar. 


Perasaan mencapai kemajuan atau keberhasilan itu terutama karena dopamin.


semakin besar tujuan, semakin besar usaha yang dibutuhkan untuk mencapainya, semakin banyak dopamin yang kita peroleh.


Karena itulah kita merasa benar-benar nyaman saat bekerja keras menyelesaikan sesuatu yang sulit, sementara bekerja cepat dan mudah hanya memberi kita sedikit dopamin. 


Dengan kata lain, berupaya keras menyelesaikan sesuatu membuat kita merasa puas.


Ketika kita tidak mengerjakan apa-apa, kita tidak menerima insentif biologis apa pun.

Jumat, 04 November 2022

Harta Hanya Titipan


Harta hakikatnya titipan, yang kapan saja bisa diambil oleh pemilik-Nya yaitu Allah SWT.

Jaga amanah harta untuk hal yang baik menurut-Nya.

Bila tidak bisa menjaganya akan menjadi musibah bagi manusia.

Diperbudak oleh harta bahkan sampai tak sempat belajar agama.



“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” (QS. Al-Hadid (57) : 7).


Pada ayat ini Allah SWT memerintahkan agar beriman kepadaNya dan rasul-Nya menafkahkan harta-harta yang mereka miliki, karena harta dan anak itu adalah titipan Allah pada seseorang, tentu saja pada suatu hari titipan tersebut akan diambil kembali.


Dari Ibnu Mas'ud, bahwa ia berkata, "Seorang lelaki telah datang membawa seekor unta yang bertali di hidungnya ) lalu orang tersebut berkata, "Unta ini saya nafkahkan di jalan Allah". Maka Rasulullah saw bersabda, "Dengan nafkah ini, Anda akan memperoleh di akhirat kelak tujuh ratus ekor unta yang juga bertali di hidungnya" (Riwayat Muslim).


Salam Sukses Berkah Berlimpah!

Kamis, 03 November 2022

Diam Itu Emas

Ada pepatah mengatakan diam itu emas.

Daripada salah bicara mending diam lebih utama.


Dalam Islam ada saatnya harus diam, dan ada saatnya harus berbicara.

Apalagi ketika melihat kedholiman merajalela justru kita harus berbicara.Bukan malah diam cari selamat.


Keutamaannya seperti pada hadits berikut


“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim lalu ia memerintah penguasa itu (dengan kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuh dirinya” (HR al-Hakim dan ath-Thabarani).


Hadis ini menunjukkan keutamaan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa yang zalim. 


Rasul saw memasukkan aktivitas itu sebagai bagian dari afdhalu al-jihâd (jihad yang paling afdhal). 


Pasalnya, hal itu menunjukkan kebulatan tekad, kekuatan iman dan ketegaran orang yang melakukannya tanpa takut di hadapan penguasa zalim yang destruktif.


Dengan itu ia telah menghadapkan jiwanya dalam bahaya tirani penguasa zalim itu. Dengan itu pula ia telah menjual dirinya kepada Allah SWT. Dia mengedepankan perintah dan hak Allah daripada hak dan kepentingannya sendiri

Jumat, 21 Oktober 2022

Buat uang bekerja keras



Muslimpreneur harus bisa membuat uang bekerja keras untuk mereka.


Bukan sebaliknya malah bekerja keras untuk uang.


Caranya bagaimana ? Yaitu dengan membangun pondasi yang kuat.


Mulai dari Niat/tujuan yang benar. Yaitu untuk meraih ridho Allah semata.


Kemudian bisnis dijalankan sesuai syariat.


Dan terakhir maksimalkan sunatullah, yang terdiri dari strategi hebat, team hebat, dan sistem yang hebat.


Memang tidak bisa instan, butuh keistiqomahan. Hingga akhirnya ketemu sebuah pola kesuksesan.


Masing-masing memiliki pola yang berbeda, maka temukanlah pola kesuksesanmu.


“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam (mengerjakan) hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah dan janganlah bersikap lemah.” (HR. Muslim).


Salam Sukses Berkah Berlimpah!



Selasa, 18 Oktober 2022

Ijtihad dan tathbiqul hukmi

Fiqih Bisnis Islam by Pengusaha Rindu Syariah

Materi Fiqih Bisnis Islam bersama Kyai KH. Muhammad Shiddiq Al Jawi malam ini membahas tentang Ijtihad dan Tathbiiq Al Hukm.

Pengertian ljtihad Menurut Istilah iljtihad menurut makna istilah (terminologi) adalah mengerahkan kesanggupan untuk mencari zhann (dugaan) dalam hukum-hukum syara’ sedemikian sehingga mujtahid merasa tidak mampu lagi untuk menambah kesanggupannya itu.
(M. Husain Abdullah, Al Wadhih fi Ushul Al Figh,
him. 361)

Metode ijtihad adalah tiga langkah secara
bertahap yang dilakukan oleh seorang mujtahid
sebagai berikut :
1. Mempelajari fakta masalah yang ada,
2. Mempelajari nash-nash syara’ yang terkait
dengan masalah yang ada,
3. Mengistinbath hukum syara’ dari nash syara’
tersebut.
(Taqiyuddin Nabhani, Nizhamul Islam, h. 74).

Tathbiqul Hukmi adalah aktivitas serupa ijtihad, tapi bukan ijtihad.

Tathbiqul Hukmi adalah menerapkan hukum yang sudah ada pada masalah-masalah baru.

Istilahnya : Tathbiqul Hukmi ‘Ala Al Masa`il Al

Mustajaddah (menerapkan hukum yang sudah ada pada masalah-masalah baru).

Hal ini bukanlah istinbath, tetapi menerapkan hukum umum berdasarkan nash umum untuk masalah-masalah baru.

Contoh : hukum sembelihan Ahmadiyah, hukum daging hewan yang dimatikan dengan listrik, dsb.

Imam Taqiyuddin Nabhani dalam kitabnya As Syakhshiyyah Al

Islamiyah Juz I hlm. 203.


Kajian rutin pekanan. Materi bisa disaksikan https://youtu.be/bd9n0dRIlbQ 

#fiqihmuamalah #muamalah #kajianfiqih

Senin, 03 Oktober 2022

Hijrah

Hijrah bukan sekadar berganti jubah.

Tak sekadar pengakuan telah

berubah. Tapa amal shalih, hijrah

takkan berbuah Jannah. 


Hijrah menjadi

pembuktian tadhiyah (pengorbanan) untuk

memenangkan agama Allah. Hijrah bukanlah

cara untuk rehat (râhah). Hijrah adalah cara

memenangkan dakwah, menancapkan panji-

panjinya di Bumi Allah. 


Dengan itu tumbuh kebaikan di bumi dan turun keberkahan dari langit. Keberkahannya mampu menyatukan pemikiran (fikrah) dan gerak langkah (harakah) orang-orang yang beriman kepada Allah, saling mencintai karena-Nya, menjemput keberkahan.


Irfan Abu Naveed

(Al waie, September 2022)

Minggu, 02 Oktober 2022

Ikatan Akidah Islam


Ikatan Akidah Islam

Islam secara tegas mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi persatuan yaitu di atas asas akidah Islam. 

Persatuan yang diikat dalam institusi kepemimpinan Islam. Hal itu tersurat dan tersirat dalam al-Quran, as-Sunnah dan aqwâl para ulama mu’tabar.

Islam mewajibkan kaum Muslim menjadikan ikatan akidah Islam sebagai pengikat kaum Muslim (ukhuwwah islamiyyah) (QS al-Hujurat [49]: 10). 

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (Terjemahan QS. Al-Hujurat: 10) 

Islam mengharamkan ikatan-ikatan jahiliah (ashabiyyah) yang bisa merusak kesatuan kaum Muslim seperti fanatisme buta pada kelompok, kesukuan, kedaerahan dan lainnya. Islam jelas mencela paham fanatisme buta (‘ashabiyyah), Rasulullah saw. bersabda:

“Bukan dari golongan kami siapa saja yang menyerukan ‘ashabiyyah (fanatisme golongan). Bukan dari golongan kami siapa saja yang berperang atas dasar ‘ashabiyyah. Bukan dari golongan kami siapa saja yang mati di atas ‘ashabiyyah” (HR Abu Dawud).