banyak memberi banyak menerima

banyak memberi banyak menerima

Sabtu, 30 Maret 2019

PD dengan Imannya



“Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kalian bersedih hati, karena kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139).
.

Terhadap ayat tersebut Sayyid Qutb menjelaskan bahwa setiap Muslim sudah seharusnya memiliki sikap berjiwa besar (berani) atau perasaan unggul yang harus dipegang teguh dalam menghadapi segala sesuatu, segala situasi, semua nilai dan semua orang, yakni perasaan serba unggul karena keimanan.
.
Pict : silahukhuwah bersama ketua HDCI Jogja
#suksesmulia
#yukhijrahbisnis 
#motivasiislami

Kamis, 28 Maret 2019

Secangkir Kopi



•••

Secangkir Kopi

(Agung N Susanto)

.

Ketika dikantor biasanya saya minta dibuatkan kopi ke OB. Tapi kadang kemanisan atau kadang terlalu pahit. Akhirnya biar pas mintanya kopi pahit tanpa gula, gulanya atur sendiri sesuai selera.

.

Hidup ini seperi kopi, bila terlalu manis diri ini bisa terlenakan oleh dunia, hingga membuat jauh dari Allah SWT. Bila terlalu pahit juga membuat diri sukar untuk fokus berilmu dan berdakwah karena pikiran terbawa berbagai masalah yang menerpa.

.

Yang paling pas adalah tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit, artinya mengarahkan diri apapun kondisi yang sedang dialami untuk selalu menjaga dalam keseimbangan. Tidak terlalu bahagia ketika mendapat kenikmatan, tidak terlalu bersedih ketika mendapat kesempitan.

.

Ketika diri bisa dalam keseimbangan maka semua episode hidup yang dijalani akan terasa lebih nikmat, memahami setiap kejadian adalah atas kehendak Allah SWT, tugas kita cukup teguh di jalan taat berupaya menggapai ridho-Nya semata.

.

Ingat pesan Umar Bin Khattab berikut yang sarat makna: "Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang baik bagiku..." .

Salam Sukses Berkah Berlimpah

#motivasiislami #yukhijrahbisnis #suksesmulia

Minggu, 24 Maret 2019

Muslim satu tubuh


Iman tidaklah dinyatakan dengan lisan belaka, namun juga harus tercermin dalam amaliah keseharian. Seseorang tidaklah dikatakan sebagai mukmin yang sempurna imannya bila bersikap acuh terhadap saudaranya. Nabi SAW bersabda:

.

“Salah seorang kalian tidak (dikatakan) beriman (dengan sempurna) sampai dia cinta bagi saudaranya apa yang ia cinta bagi dirinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Abu Hurairah berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan mengatakan, “Sungguh saya ditimpa kesulitan hidup.” Maka Rasulullah menuju istri-istrinya, namun beliau tidak mendapatkan dari mereka sesuatu apapun (yang bisa diberikan kepadanya). Maka Rasulullah mengatakan, “Siapa yang mau menjamu orang ini pada malam ini?” Berkata seorang Anshar, “Saya, wahai Rasulullah.” Orang Anshar tersebut datang kepada istrinya lalu mengatakan, “(Ini adalah) tamu Rasulullah. Janganlah kamu menyimpan sesuatu (yang harus disuguhkan kepadanya).” Istrinya mengatakan, “Demi Allah, tidak ada padaku kecuali makanan untuk anak-anak.” Suaminya berkata, “Bila anak-anak ingin makan maka tidurkanlah mereka, dan kemarilah kamu (membawa hidangan) lalu matikan lampu. (Tidak mengapa) malam ini kita lapar.” Istrinya menjalankan perintah suaminya. Pada keesokan harinya orang Anshar itu pergi kepada Rasulullah n maka beliau bersabda, “Sungguh Allah kagum/tertawa kepada fulan dan fulanah (seorang Anshar dan istrinya).” Lalu Allah l menurunkan ayat-Nya:

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Al-Hasyr: 9) [Shahih Al-Bukhari no. 4889]


Jumat, 22 Maret 2019

Kewajiban Dakwah



•••

Berdakwah

.


Mungkin memang paling enak hidup bebas tanpa beban amanah.. hidup bebas sesuka hatinya puaskan hasrat yang penting hepii.. Nggak perlu diribetkan hal-hal yang bikin pusing.. Apalagi ngurusin problematika umat, nggak bangeuddd.. cukup mikirin gimana caranya diri ini bahagia.. atau agak naik dikit masih rajin ibadah, sedekah, dan ibadah sunnah namun masih kesolehannya untuk dirinya sendiri.

.

Konsekuensi menjadi seorang muslim adalah menjadi pribadi takwa, yang artinya jalankan perintah-Nya dan jauhkan larangan-Nya. Tentunya SEMUA Perintah dan Larangan-Nya bukan ambil mana yang disuka saja.

.

Salah satunya yaitu kewajiban berdakwah menyampaikan yang makruf dan mencegah yang mungkar.

. “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia, kalian perintahkan yang ma’ruf dan kalian larang yang mungkar, dan kalian pun beriman kepada Allah…” (Qs. Ali-‘Imran: 110)

.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad)

.

Sebaliknya mereka kaum munafik hidupnya berkebalikan dengan orang beriman, yang  membawa kerusakan dengan malah mengajak kepada keburukan dan melarang/ menghalangi bagi yang ingin taat.

.

“Orang-orang munafiq lelaki dan perempuan, sebahagian mereka merupakan penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma’ruf…” (Qs. At-Taubah: 67)

.

Semakin jelas bahwa ternyata kewajiban berdakwah adalah kewajiban setiap muslim. Jangan tunggu berilmu baru berdakwah, berdakwalah maka kita akan terpacu untuk mencari ilmunya.

.

Salam Sukses Berkah Berlimpah!

#motivasiislami #yukhijrahbisnis #suksesmulia

Rabu, 20 Maret 2019

Masa depan gemilang



Betapa diri ini takjub membaca kisah-kisah dalam shiroh. Melihat demikian sabarnya Rasulullah SAW menghadapi dan mendoakan orang-orang yang memusuhinya. 

.

Sampai akhirnya orang-orang yang memusuhi nabi akhirnya berhijrah, bertaubat dan masuk Islam. Pun begitu Nabi dengan tangan terbuka menerimanya dengan baik tak lagi mengungkit perlakuannya yang lalu. Sampai kemudian mereka Berubah menjadi pejuang Allah yang membela dan menyebarkan Islam. 


كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad)

.
Demikian sebagai manusia biasa tidak ada yang bisa terbebas dari dosa dan khilaf. Terlebih di kehidupan jahiliyah moderen seperti sekarang. 
.
Namun bagi yang terus mencari dan mencari hingga akhirnya mendapatkan hidayah taufik untuk berhijrah kita wajib berikan dukungan dan tidak lagi mengungkit masa lalunya apalagi menghakiminya. 
.
Lebih baik menjadi mantan pendosa daripada menjadi mantan orang beriman. Kita tidak pernah tahu bagaimana ujian dan cobaan yang terus hadir. Semoga kita semua diberi istiqomah dijalan taat hingga meninggal dalam akhir yang baik (husnul khotimah). Aamiin..

Senin, 18 Maret 2019

Muhasabah



Hingar bingar kehidupan membuat diri lupa/tak sempat untuk bermuhasabah “berdialog” dengan pemilik kehidupan.
.
Bermuhasabah betapa banyak diri ini sebagai insan yang penuh dosa dan sedikit sekali timbangan amal pahala.
.
Beruntung sebab Allah SWT sayang diri diuji dengan berbagai kesulitan, kesedihan, ketakutan, dan sakit, yang sejatinya sebagai penghapus dosa atas khilaf di masa lalu.
.
Sabar atas setiap ujian dan syukur atas setiap nikmat yang tak terhitung jumlahnya semoga kelak mendapat balasan nikmat di akhirat.
.

[2:214] “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Perkara yang membinasakan



Ukuran kebenaran bukanlah dari perasaan, enak tidak enak, seneng tidak seneng.

Bila kebenaran hanya dari yang dirasakan tentu tak bisa meneladani jalan terjal yang dilalui Rasulullah dan sahabat yang penuh perjuangan dan pengorbanan.

Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ فَأَمَّا ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ 

و ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ والعلانيةِ وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا 

Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. 

Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan  seseorang yang membanggakan diri sendiri.

Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allâh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha. 

[Hadits ini diriwayatkan dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah]